Ini Dia Organisasi Pendukung Bunuh Diri (Euthanasia)!

IDEANDSPIRATION – Di saat banyak negara di dunia menentang keras praktik bunuh diri, beberapa di antaranya malah memberikan hak untuk warganya yang memang siap lahir batin untuk mengakhiri hidup. Euthanasia menjadi cara yang populer dari bidang kedokteran karena dianggap tidak memberikan efek sakit yang besar dan kematian yang cepat kepada pasien.

Jika sebelumnya sudah dibahas apa itu euthanasia, kali ini akan diceritakan organisasi yang secara gamblang mendukung bunuh diri dengan euthanasia. Salah satunya dari negara penghasil coklat, Swiss.

Organisasi Pendukung

ideanspiration dignitas
©www.nationalrighttolifenews.org

Euthanasia mulai banyak mendapat dukungan dengan terbentuknya sebuah organisasi nonprofit bernama Dignitas asal Swiss di tahun 1998. Penggagasnya adalah Ludwig Minelli, seorang pengacara asal Swiss. Dalam situs mereka, Dignitas mengklaim jika mereka mendukung pilihan setiap individu untuk memilih bagaimana akhir kehidupan mereka.

Di Swiss sendiri diketahui, obat mematikan dapat diberikan baik kepada warga negaranya ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri. Secara umum, pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang ditulis pada tahun 1937 dan dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya menyatakan bahwa

“membantu suatu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum apabila motivasinya semata untuk kepentingan diri sendiri.”

Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri kehidupan seseorang. Jadi secara tidak langsung euthanasia di Swiss diperbolehkan, asal itu memang kemauan dari si pasien sendiri, Inspirers.

ideandspiration rumah dignitas
Inilah klinik Dignitas yang ada di Kota Zurich ©dailymail.co.uk

Dignitas mengaku telah membantu pembunuhan tidak kurang dari 2.100 orang di klinik Dignitas di Zurich. Sebagian besar pasiennya adalah mereka yang menderita penyakit fisik tak tersembuhkan, divonis tak akan hidup lama, atau menderita karena keterbatasan fisik.

Semuanya dikualifikasi secara ketat dan melalui pertimbangan dokter ahli. Pengadilan Swiss mensyaratkan adanya rekam medis yang mendalam sebelum si pasien benar-benar dieksekusi. Artinya memang tidak semua orang dapat mendapatkan eksekusi euthanasia.

Tidak disangka, Dignitas laris manis di kalangan masyarakat dunia yang ingin mengakhiri hidup, namun terlarang di negaranya sendiri. Mereka berbondong-bondong menuju Swiss untuk melakukan ‘wisata’ bunuh diri. Nah, sebutan ini yang sepertinya mengganggu warga Swiss. Mereka berharap pemerintah tetap melegalkan warganya untuk bunuh diri, namun menolak warga asing datang ke Swiss dengan tujuan yang sama.

ideandspiration clinic dignitas
Suasana klinik Dignitas ©s-media-cache-ak0.pinimg.com

Organisasi pendukung euthanasia juga muncul dari negara tetangga kita, Australia. Pendirinya adalah Philip Nitschke PhD, MBBS, BSc. Nitschke mendirikan organisasi bernama Exit International, atau juga dikenal sebagai Voluntary Euthanasia Research Foundation (VERF) pada tahun 1997.

Exit percaya bahwa setiap orang dewasa berhak merencanakan bagaimanakah akhir hidupnya. Sehingga mereka dapat benar-benar hidup, damai, dan memilih kapan waktu yang tepat untuk kematian mereka. Organisasi nonprofit ini pun telah memiliki member online sebanyak 20.000 suporter dari seluruh dunia. Rata-rata dari member Exit berusia 75 tahun.

Metode Euthanasia

ideanspiration medicine suicide
©www.swissinfo.ch

Secara umum, Dignitas maupun Exit menggunakan sejumlah obat-obatan kedokteran untuk menghentikan napas pasiennya. Pasien diberikan obat oral antiemetik yang kemudian diikuti dengan overdosis dari bubuk pentobarbital yang dilarutkan dalam segelas air atau jus buah satu jam kemudian.

Overdosis pentobarbital menekan sistem saraf pusat yang menyebabkan si pasien menjadi mengantuk dan tertidur dalam waktu lima menit setelah diminum. Anestesi berkembang menjadi koma karena pernafasan mereka menjadi lebih dangkal, yang kemudian diikuti dengan kematian yang terjadi dalam waktu kurang lebih 30 menit dari jarak pemberian pentobarbital.

Dalam beberapa kasus pada tahun 2008, Dignitas menggunakan pernafasan gas helium sebagai metode bunuh diri daripada overdosis pentobarbital. Hal ini untuk menghindari kebutuhan pengawasan medis dan resep obat yang harus dikendalikan. Selain itu, cara ini juga lebih murah.

Biaya Mahal

Jackie Baker bersama putrinya, Tara O’Reilly (kanan) dan Rose Baker (kiri) pergi ke klinik Dignitas karena didiagnosis menderita penyakit neuron motorik © i4.walesonline.co.uk

Dignitas  mematok biaya yang tidak sedikit untuk mereka yang ingin mendaftar di kliniknya. Biaya sebesar 4.000 Euro atau sekitar Rp 60,5 juta dianggap cukup untuk perawatan dan fasilitas yang nantinya disuguhkan kepada calon pasien.

Namun jika pasien ingin ditemani dokter, menerima sertifikat kematian, serta kepengurusan pemakaman atau kremasi, maka total biaya yang diperlukan sebesar 7.000 Euro  atau setara Rp 105 juta. Ingin mengakhiri hidup juga butuh uang yang banyak ya, Inspirers.

Semua agama dan keyakinan melarang keputusan untuk bunuh diri. Sebab ini hanya prilaku individu yang berakal pendek dan putus asa terhadap takdir. Padahal kesempatan untuk hidup dengan baik dan meraih mimpi masih panjang. Lebih baik menggunakan waktu yang masih ada dengan cermat dan efektif, karena tidak ada yang pernah tahu kapan berakhirnya kesempatan kita. Sukses terus Inspirers! (wkp/rmn/bbc/dnm/nei)

Baca Sebelumnya : Euthanasia, Cara Populer Akhiri Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s